Konsistensi Tanah Friday, Jan 14 2011 

LAPORAN DASAR ILMU TANAH

Konsistensi tanah

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Konsistensi adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antara partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah.

Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu: basah, lembab, dan kering. Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field cappacity). Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara.

B. Tujuan

a.   Untuk mengetahui definisi konsistensi tanah

b.   Untuk mengetahui macam – macam konsistensi tanah

c.   Untuk mengetahui metode pengukuran konsistensi tanah

d.   Untuk megetahui faktor yang mempengaruhi konsistensi

e.   Untuk mengetahui faktor yang dipengaruhi konsistensi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Konsistensi Tanah

a. Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain.

(Hardjowigeno, 1992).

b. Konsistensi adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antara partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah.

(Anonymous, 2010)

c. Konsistensi tanah adalah suatu sifat tanah yang menunjukkan derajat kohesi dan adhesi diantara partikel – parkikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk yang disebabkan oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengarui bentuk tanah.

(Anonymous, 2010)

2.2 Macam – macam Konsistensi Tanah

a. Konsistensi Basah

a.1 Tingkat Kelekatan, yaitu menyatakan tingkat kekuatan daya adhesi antara butir-butir tanah dengan benda lain, ini dibagi 4 kategori:

(1) Tidak Lekat (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak melekat pada jari tangan atau benda lain.
(2) Agak Lekat (Nilai 1): yaitu dicirikan sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain.
(3) Lekat (Nilai 2): yaitu dicirikan melekat pada jari tangan atau benda lain.
(4) Sangat Lekat (Nilai 3): yaitu dicirikan sangat melekat pada jari tangan atau benda lain.

a.2 Tingkat Plastisitas, yaitu menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan, ini dibagi 4 kategori berikut:

(1) Tidak Plastis (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak dapat membentuk gulungan tanah.
(2) Agak Plastis (Nilai 1): yaitu dicirikan hanya dapat dibentuk gulungan tanah kurang dari 1 cm.

(3) Plastis (Nilai 2): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut.

(4) Sangat Plastis (Nilai 3): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan tekanan besar untuk merusak gulungan tersebut.

b.  Konsistensi Lembab

Pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang, konsistensi dibagi 6 kategori sebagai berikut:

(1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan tanah tidak melekat satu sama lain atau antar butir tanah mudah terpisah (contoh: tanah bertekstur pasir).

(2) Sangat Gembur (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas.

(3) Gembur (Nilai 2): yaitu dicirikan dengan hanya sedikit tekanan saat meremas dapat menghancurkan gumpalan tanah.

(4) Teguh / Kokoh (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan agak kuat saat meremas tanah tersebut agar dapat menghancurkan gumpalan tanah.

(5) Sangat Teguh / Sangat Kokoh (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan berkali-kali saat meremas tanah agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut.
(6) Sangat Teguh Sekali / Luar Biasa Kokoh (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan tidak hancurnya gumpalan tanah meskipun sudah ditekan berkali-kali saat meremas tanah dan bahkan diperlukan alat bantu agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut.

c. Konsistensi Kering

Penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara, ini dibagi 6 kategori sebagai berikut:

(1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan butir-butir tanah mudah dipisah-pisah atau tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah bertekstur pasir).

(2) Lunak (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah hancur bila diremas atau tanah berkohesi lemah dan rapuh, sehingga jika ditekan sedikit saja akan mudah hancur.
(3) Agar Keras (Nilai 2): yaitu dicirikan gumpalan tanah baru akan hancur jika diberi tekanan pada remasan atau jika hanya mendapat tekanan jari-jari tangan saja belum mampu menghancurkan gumpalan tanah.

(4) Keras (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan makin susah untuk menekan gumpalan tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya tekanan yang lebih kuat untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah.

(5) Sangat Keras (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan yang lebih kuat lagi untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah makin sangat sulit ditekan dan sangat sulit untuk hancur.

(6) Sangat Keras Sekali / Luar Biasa Keras (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan yang sangat besar sekali agar dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah baru bisa hancur dengan menggunakan alat bantu (pemukul).

2.3 Metode Pengukuran Konsistensi

Metode pengukuran konsistensi tanah ada 2 yaitu :

a.     Secara Kualitatif

Metode pengukuran konsistensi tanah secara kualitatif yaitu penentuan ketahanan massa tanah terhadap remasan, tekanan atau pijitan tangan pada berbagai kadar air tanah.

b.     Secara Kuantitatif

Metode pengukuran konsistensi tanah secara kuantitatif sering diistilahkan dengan angka Atterberg.

2.4 Faktor Mempengaruhi Konsistensi

a. Kadar Air : Bila kadar air tinggi maka konsistensi tanah rendah.

b.   Tekstur Tanah : Bila tekstur tanah dominan pasir maka konsistensi tanah rendah.

c.   Porositas : Bila porositasnya tinggi maka konsistensi rendah.

d.   Bahan Organik : Bahan organik tinggi maka konsistensi rendah.

e.   Berat Isi

2.5 Faktor Dipengaruhi Konsistensi

a. Struktur Tanah : Bila konsistensi tanah tinggi maka struktur mantap.

b. Erosi : Bila konsitensi tanah tinggi maka erosi rendah.

c. Pengolahan : Bila konsistensi tanah tinggi maka pengolahan semakin susah.

BAB III

METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

a. Alat

-  Buku : untuk mencatat materi dan hasil

-  Bolpoint : untuk menulis hasil dan materi

-  3 Ring

-  Oven

b.  Bahan

- Tanah (pasir, liat, debu) : untuk pengamatan

- Tanah dari Joyogrand : untuk pengamatan

- Air : untuk membasahkan tanah

3.2 Alur Kerja

Menyiapkan alat dan Bahan

Mengambil contoh tanah dari tiap horizon tanah

Mengamati

Membasahi tanah agar mudah di bentuk

Membentuk tanah tersebut menjadi lilitan bulat panjan

Mengamati lagi konsisitensi atau kemampuan tanah tersebut untuk dibentuk lilitan

Membuat Laporan

3.3 Analisis Perlakuan (Perbandingan Jurnal)

o       Semua tanah (kecuali pasir) jika dibasahi

menjadi liat

Sifat liat dipengaruhi oleh kohesi & adhesi antara sesama molekul tanah dan molekul air.

Zarah/partikel tanah yang semula lepas-lepas saat dibuat bentukkan tertentu dengan        mencampurkan air.

o       Ciri-ciri tanah mempunyai sifat liat

Adalah jika bentukan tanah tersebut tidak rusak jika dikeringkan.

o       Tanah pasir mempuyai sifat tidak liat

Pada saat basah, pasir dapat dibentuk bola, tetapi bila dikeringkan maka butir-butir pasir akan terurai berai.

o       Kohesi dalam konsistensi tanah

Adalah gaya tarik menarik sesama zarah tanah akibat adanya selaput lengas pada             permukaanzarah tersebut. Besar kecilnya gaya dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk zarah          serta tebal tipisnya selaput lengas di antara zarah tersebut.

o       Adhesi dalam konsistensi tanah

Adalah gaya tarik menarik antara zarah tanah (fase padat) dengan molekul air (fase cair).

o       Kohesi tanah basah

Terjadi antara fase cair yang berperan sebagai sebagai jembatan antar fase padat.

o       Besar kecilnya kohesi berbanding lurus

dengan tegangan muka air (lengas tanah) dan berbanding terbalik dengan diameter zarah      (kohesi meningkat jika kadar lempung meningkat dan kadar menurun jika kadar pasir       meningkat)

o       Contoh tanah halus kohesinya akan

-         Meningkat jika ditetesi air sedikit demi sedikit

-         mencapai maksimal pada kadar lengas 15%

-         menurun jika kadar lengasnya > 15 %

o       Pada tanah liat/plastic yang dibentuk bulat

Ternyata makin kuat kohesinya jika KL makin merosot karena makin tipis selaput lengas,          tegangan muka makin kecil sampai batas tanah. Kohesi yang makin meningkat setelah            titik patah bukan karena selaput lengas, melainkan karena kohesi molekuler tanah    tersebut.

o       Titik Patah

merupakan batas awal masuknya udara ke dalam pori tanah dan menyebabkan warna           tanah berubah dari gelap menjadi cerah dan mengerut disebut beerturut-turut Batas   Berubah Warna (BBW) dan Derajat Kerut (DK).

(Anonymous, 2010)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel data hasil praktikum

Jenis Tanah Berat Ring 

(sebelum)

Berat Ring sesudah dimasukkan cincin Berat sesudah di oven
Ring 1 Vertisol 21,66 gr 30,18 27,25
Ring 2 Andisol 22,85 gr 38,70 32,94
Ring 3 Sample 15,66 gr 32,50 27,25

4.2 Pembahasan data hasil praktikum

a.) Dalam kondisi basah

Vertisol          : -sangat lekat

-sangat plastis

Andisol          : -lekat

-plastis

Entisol                        : -agak lekat

-tidak plastis

Sampel                      : -agak lekat

-plastis

b.) Dalam kondisi lembab

sampel                      : -Teguh

4.3 Perhitungan kadar air

  • Berat Basah Tanah

Ring 1 = 30,18 – 21,66 = 8,52 gram

Ring 2 = 38,70 – 22,85 = 15,85 gram

Ring 3 = 32,50 – 15,66 = 16,84 gram

  • Berat Kering Oven Tanah

Ring 1 = 27,25 – 21,66 = 5,59 gram

Ring 2 = 32,94 – 22,85 = 10,09 gram

Ring 3 = 28,32 – 15,66 = 12,66 gram

Kadar Air pada Tiap-Tiap Ring

KA Ring 1 = 8,52 – 5,59 x 100% = 52,4%

5,59

KA Ring 2 = 15,85 – 10,09 x 100% = 57%

10,09

KA Ring 3 = 16,84 – 12,66 x 100% = 33%

4.4 Pengaruh kadar air dalam pengolahan tanah

Pengolahan tanah seharusnya pada kandungan air tanah yang tepat, yaitu tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Faktor tumbuhan dan iklim mempunyai pengaruh yang berarti pada jumlah air yang dapat diabsorpsi dengan efisien tumbuhan dalam tanah. Kelakukan akan ketahanan pada kekeringan, keadaan dan tingkat pertumbuhan adalah faktor tumbuhan yang berarti. Temperatur dan perubahan udara merupakan perubahan iklim dan berpengaruh pada efisiensi penggunaan air tanah dan penentuan air yang dapat hilang melalui saluran evaporasi permukaan tanah. Diantara sifat khas tanah yang berpengaruh pada air tanah yang tersedia adalah hubungan tegangan dan kelembaban, kadar garam, kedalaman tanah, strata dan lapisan tanah.

Banyaknya kandungan air tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air (moisture tension) dalam tanah tersebut. Kemampuan tanah dapat menahan air antara lain dipengaruhi oleh tekstur tanah. Tanah-tanah yang bertekstur kasar mempunyai daya menahan air yang lebih kecil dari pada tanah yang bertekstur halus. Pasir umumnya lebih mudah kering dari pada tanah-tanah bertekstur berlempung atau liat. (Hardjowigeno, S., 1992).

4.5 Kajian pengaruh konsistensi dalam usaha pertanian

Tanah sawah dalam kondisi plastis ata bahkan berlumpur karena berada diatas Batas Cair          (BC) tidak menjadi masalah dalm pengolahan karena kondisi spesifik yang harus dipenuhi dalam penyiapan tanah sawah adalah pelukpuran lapisan olah.

Pembangunan pertanian yang lebih berorientasi pada efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam dan aman lingkungan mendorong penyempurnaan konsep pengelolaan lahan sebagai sarana produksi pertanian. Keselarasan antara pendekatan pengelolaan lahan dengan dinamika ekosistem lahan menjadi faktor penting begitu pula konsistensi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa konsistensi tanah ialah suatu sifat tanah yang menunjukkan derajat kohesi dan adhesi diantara partikel – parkikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk yang disebabkan oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengarui bentuk tanah.

a.) Dalam kondisi basah

Vertisol          : -sangat lekat

-sangat plastis

Andisol          : -lekat

-plastis

Entisol                        : -agak lekat

-tidak plastis

Sampel                      : -agak lekat

-plastis

b.) Dalam kondisi lembab

sampel                      : -Teguh

5.2 Saran

Ada ajahh..

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2009/04/sifat-fisika-tanah-bagian-5-konsistensi.html. 16 Oktober 2010.

Anonymous. 2010. ilmutanahuns.files.wordpress.com/…/konsistensi-tanah.pdf. 16 Oktober 2010.

Anonymous. 2010. ariyanto.staff.uns.ac.id/files/2010/04/kesuburan-05.pdf. 16 Oktober 2010.

Hardjowigeno. S., 1987. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo : Jakarta.

Tekstur Tanah Friday, Jan 14 2011 

LAPORAN DASAR ILMU TANAH

TEKSTUR TANAH

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat penting peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. Ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenai tanah dikenal sebagai ilmu tanah. Komposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. Air dan udara merupakan bagian dari tanah. Oleh karena itu sangatlah penting untuk mempelajari ilmu tanah dan cara untuk melestarikannya.

1.2 Tujuan

1.      Untuk mengetahui karakteristik tanah

2.      Untuk mengetahui sifat – sifat tanah

3.      Untuk mengetahui perbedaan tanah liat, debu dan pasir

4.      Untuk mengetahui bahan penyusun tanah

1.3 Manfaat

1.      Dapat mengetahui karakteristik tanah

2.      Dapat mengetahui berbagai sifat-sifat tanah

3.      Dapat mengetahui perbedaan tanah liat, debu dan pasir

4.      Dapat mengetahui bahan penyusun tanah

BAB II

METODOLOGI

2.1       Alat dan Bahan

Alat Di Lapangan

§         Ring

§         Cethok

§         Kayu

§         Palu

§         Plastik

§         Karet

Bahan Di Lapangan

§         Tanah

Alat Di Laboratorium

§         Pring plastik

§         Segitiga tektur

§         Botol

Bahan Di Laboratorium

§         Tanah

§         Air

2.2 Alur Kerja (Diagram Alir)

Alur Kerja Di Lapangan
.Mencari tempat untuk diambil sample tanahnya
.Tanah pertama diambil dengan cetakan ring
.Tanah disekitar cetakan ring digali melingkar
.Tanah dalam cetakan diambil dan dimasukkan plastik
.Mengambil sample tanah 2 macam dengan serok (gumpalan tanah dan pasir)
.Memasukkan sample ke plastik

Alur Kerja Di Laboratorium
.Mengambil sample tanah
.Membasahi tanah dengan sedikit air
.Merasakan tanah dengan tangan (by feeling)
.Menghitung kadar dengan segitiga tekstur
.Mencatat hasilnya

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1    Analisis Tekstur

  • Sifat kimia, fisika dan mineralogi partikel tanah tergantung pada ukuran partikelnya.
  • Semakin kecil ukuran partikel maka luas permukaannya semakin besar. Jadi, luas permukaan fraksi liat > fraksi debu > fraksi pasir
  • Partikel-partikel tanah (tekstur tanah) yang dikelompokkan berdasarkan atas ukuran tertentu disebut fraksi (partikel) tanah, fraksi ini dapat menjadi kasar ataupun halus. Menurut system MOHR fraksi tanah pasir mempunyai ukuran 2.00-0.05 mm, debu 0.05-0.005 mm, dan liat 0.005 mm (Kartasapoetra, 1987).

3.2    Macam – Macam Tekstur Tanah

Ø      Pasir:

Pasir adalah bahan butiran alami terdiri dari batuan halus yang terpisah dan partikel mineral. Komposisi pasir ini sangat bervariasi, tergantung pada sumber-sumber batuan lokal dan kondispartikel pasir berdiameter berkisar dari 0.0625mm (atau 1 / 16 mm, atau 62,5 mikrometer) untuk 2 milimeter.

Ø      Debu:

Debu adalah nama umum untuk partikel padat dengan diameter antara 0,02 – 0,002mm.

Ø      Liat:

Bahan alami terutama terdiri dari mineral halus. Penyusunnya sebagian besar terdiri dari mineral tanah liat, suatu subtipe mineral phyllosilicate, yang membuat elastis dan mengeras bila dipanaskan atau kering

(Anonymous , 2010)

3.3    Perbedaan Tekstur Utama (Pasir, Debu, Liat) Dari Kemampuan Fisik, Kimia & Biologinya.

Ø      Sifat Fisika

Sifat fisika tanah adalah sifat yang data dilihat secara fisik antara lain stuktur tanah, konsistensi, warna, aerasi dan drainasi, permibilitas dan penetrometer.

Tektur tanah merupakan perbandingan relatif tiga fraksi – fraksi tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara farksi liat, debu dan pasir. Pengamatan tekstur tanah dengan mengunakan indera perasa yaitu dengan membasahi sedikit kemudian tanah dibentuk bola dengan dikepal – kepal jika tidak dapat berarti termasuk golongan pasir. Tekstur pasir kasar dan massanya berat disbanding yang lain. Tekstur debu licin dan massanya paling ringan. Tekstur liat lebih lengket dan massanya sedang.

Ø      Sifat Kimia

Hal-hal yang perlu diamati dalam analisis kimia tanah adalah pH tanah, kandungan BO, kadar kapur (CaCO3) dan konkresi Mn.

pH tanah digunakan untuk mengetahui aktvitas organisme, ketersediaan hara, keracunan dan jenis tanaman yang dapat tumbuh pada kondisi tanah tersebut. Penentuan pH tanah dapat dilakukan secara elektronik dan kalorimetrik, baik laboratorium maupun lapangan. Elektrometrik reaksi tanah ditentukan antara lain dengan pH meter, sedangkan kalorimetrik dapat dikerjakan dengan kertas pH. Sedangkan pada praktikum ini pH tanah ditentukan dengan pH stick. PH aktual dianalisis dengan cara mencampurkan tanah dengan air (H2O), sedangkan pH potensial diukur dengan cara mencampurkan tanah dengan KCl.

(Tan,1991)

Ø      Sifat Biologi

Tanah bertekstur halus ini didominhasi oleh tanah liat dengan tekstur yang lembut dan licin yang memiliki permukaan yang lebih halus dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar yang biasanya berbentuk pasir. Sehingga tanah-tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas dalam proses penyerapan unsur-unsur hara yang lebih besar dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar. Namun, pada tanah bertekstur lembut ini umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karena banyak mengandung unsure hara dan bahan organic yang dibutuhkan oleh tanaman serta mudah dalam menyerap unsur hara.
Sedangkan pada tanah bertekstur kasar lebih porus dan laju infiiltrasinya lebih cepat. Walaupun demikian tanah bertekstur halus memiliki kapasitas memegang air yang lebih besar daripada tanah pasir karena memiliki permukaan yang lebih banyak yang berfungsi dalam retensi air (water retension). Tanah-tanah bertekstur kasar memiliki makro porus yang lebih banyak, yang berfungsi dalam pergerakkan udara dan air.
Sampel tanah yang berasal dari depan pendopo memiliki tekstur liat pada kedalaman 20 cm, dengan rasa dan sifat tanah membentuk bola baik serta melekat sekali. Tanah terasa halus,lekat dan licin. Kondisi tanah yang diambil samplenya ditumbuhi rumput yang tumbuh cukup subur, hal ini membuktikan bahwa tanah tersebut bertekstur halus dan memiliki kapasitas absorbsi unsure-unsur hara yang besar.

(http://khmandayu.blogspot.com)

3.4 Gambar Segitiga Tekstur

(http://en.wikipedia.org/wiki/Soil)

3.5    Faktor yang Mempengaruhi & Dipengaruhi Tekstur

Faktor yang mempengaruhi :

Ø      Bahan induk :

mencakup: lapuk batuan dasar primer; bahan sekunder diangkut dari lokasi lain, misalnya colluvium dan aluvium; deposito yang sudah ada tapi campuran atau diubah dengan cara lain

Ø      Iklim:

pembentukan tanah sangat tergantung pada iklim, dan tanah dari zona iklim yang berbeda menunjukkan karakteristik yang khas. Suhu dan kelembaban mempengaruhi pelapukan dan pencucian. Angin bergerak pasir dan partikel lainnya, terutama di daerah kering di mana ada sedikit tanaman penutup. Jenis dan jumlah curah hujan mempengaruhi pembentukan tanah dengan mempengaruhi gerakan ion dan partikel melalui tanah, membantu dalam pengembangan profil tanah yang berbeda. suhu fluktuasi musiman dan harian mempengaruhi efektivitas air dalam bahan pelapukan batuan induk dan mempengaruhi dinamika tanah. Siklus pembekuan dan pencairan merupakan mekanisme efektif untuk memecah batu dan bahan konsolidasi lainnya. Suhu dan tingkat curah hujan mempengaruhi aktivitas biologis, tingkat reaksi kimia dan jenis vegetasi penutup

Ø      Topografi / Relief:

Topografi alam dapat mempercepat atau memperlambat kegiatan iklim. Pada tanah datar kecepatan pengaliran air lebih kecil daripada tanah yang berombak. Topografi miring mepergiat berbagai proses erosi air, sehingga membatasi kedalaman solum tanah. Sebaliknya genangan air didataran, dalam waktu lama atau sepanjang tahun, pengaruh ilklim nibsi tidak begitu nampak dalam perkembangan tanah.

Ø      Organisme:

Tanaman, hewan, jamur, bakteri dan manusia mempengaruhi pembentukan tanah. Hewan dan mikro-organisme tanah campuran untuk membentuk lubang dan pori-pori yang memungkinkan kelembaban dan gas meresap ke lapisan lebih dalam. Dengan cara yang sama, membuka saluran akar tanaman dalam tanah

Ø      Waktu:

Waktu adalah faktor dalam interaksi semua faktor di atas ketika mengembangkan tanah. Seiring waktu, tanah berevolusi fitur tergantung pada faktor-faktor pembentukan lain, dan pembentukan tanah adalah proses waktu-responsif tergantung pada bagaimana interaksi faktor-faktor lain dengan satu sama lain. Tanah selalu berubah.

(Anonymous b, 2010)

Dari  kelima  faktor  tersebut yang bebas  pengaruhnya adalah iklim. Oleh karena itu pembentukan tanah kering dinamakan dengan istilah asing weathering. Secara garis  besar  proses  pembentukan  tanah  dibagi  dalam  dua  tahap,  yaitu proses  pelapukan dan proses perkembangan tanah .

(Darmawijaya, 1990 )

Proses  pelapukan  adalah  berubahnya  bahan  penyusun  didalam  tanah dari  bahan  penyusun  batuan.   Sedangkan  proses  perkembangan  tanah  adalah terbentuknya  lapisan  tanah  yang  menjadi ciri, sifat, dan kemampuan yang khas dari  masing – masing  jenis tanah. Contoh  proses pelapukan adalah  hancurnya batuan  secara fisik,  sedangkan  contoh  untuk  peristiwa  perkembangan  tanah adalah terbentuknya horison tanah, latosolisasi

(Darmawijaya, 1990 )

Faktor yang Dipengaruhi

Ø      Struktur

Ø      Konsistensi

Ø      Perakaran

Ø      Daya serap air

3.6    Hubungan Tekstur Dengan Sifat Fisik Tanah Lainnya

Tekstur tanah menunjukkan kasar atau halusnya suatu tanah. Teristimewa tekstur merupakan perbandingan relatif pasir, debu dan liat atau kelompok partikel dengan ukuran lebih kecil dari kerikil. Tekstur tanah sering berhubungan dengan permeabilitas, daya tahan memegang air, aerase dan kapasitas tukar kation serta kesuburan tanah. Walaupun faktor-faktor lainnya dapat mengubah hubungan tersebut.

Dalam klasifikasi tanah (taksonomi tanah) tingkat famili, kasar halusnya tanah ditunjukkan dalam sebaran besar butir (particle size distribution) yang merupakan penyederhanaan dari kelas tekstur tanah dengan memperhatikan pula fraksi tanah yang lebih besar / kasar dari pasir.

(Darmawijaya, 1990)

3.7      Kajian Mengenai Pengaruh Tekstur Dalam Usaha Pertanian

Dalam memilih lahan untuk pertanian diperhatikan masalah tekstur tanah karena mempengaruhi kandungan bahan organik atau unsur hara yang diperlukan untuk tumbuhan serta kemampuannya menyimpan air dan aerasi. Pengolahannya tergantung dari beberapa hal antara lain, kondisi tanah / relief dan hidrologi tanah asalnya. Bila relief tanah asal berombak / berlereng, maka harus dibuat teras bangku. Cara pembuatan teras adalah dengan jalan menggali lereng atas dan menimbun lereng bawah.. Bila dengan hidrologi dilakukan dengan membuat saluran drainase agar lahan menjadi kering / tidak terus – menerus tergenang. Karena itu sifat tanah akan berubah karena terjadi proses pengeringan tanah mulai dari lapisan atas kebawah.

Pada profil tanah berpasir yang ditanami padi 3 kali setahun dijumpai lapisan tapak bajak. Jika ditanami padi 1 atau 2 kali setahun, lapisan tapak bajak menjadi lapisan padas besi ( Rayes, 2000)

3.8    Data Hasil Praktikum

Sample A Sample B Sample C Sample D
PASIR 80 % 30 % 10 % 20 %
DEBU 10 % 40 % 20 % 20 %
LIAT 10 % 30 % 70 % 60 %
golongan Loamy sand Clay loam Clay Clay

BAB IV

KESIMPULAN

KESIMPULAN

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelas tekstur tanah adalah kemampuan tanah memegang dan menyimpan air, aerasi, serta permeabilitas, kapasitas tukar kation dan kesuburan tanah.Sedangkan factor yang mempengaruhi tekstur adalah bahan induk, iklim, topografi / relief, organisme, dan waktu. Faktor yang dipengaruhi tekstur adalah struktur, konsistensi, perakaran, dan daya serap air. Macam tekstur tanah yaitu debu, pasir dan liat.

SARAN

ADA DEH  !

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. soil. http://en.wikipedia.org/wiki/ diakses tanggal 2

Oktober 2010

Darmawijaya, M. Isa. 1990. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta.

Kartasapoetra. 1987. Ilmu Tanah Umum. Bagian Ilmu Tanah Fakultas Pertanian

Universitas Padjajaran. Bandung.

Rayes, M.L. 2000. Karakteristik, Genesis Dan Klasifikasi Tanah Sawah Dari Bahan Volkan

Merapi. Disertasi Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor

Tan, Kim. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Balai Penelitian Teh & Kina. Bandung.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.